Guru sebagai Jembatan: Memperkenalkan Peluang Ekspor kepada Generasi Muda
Guru sebagai Jembatan:
Memperkenalkan Peluang Ekspor kepada Generasi Muda
Oleh: Maria Angelina
Desales Raga, S.Pd.,Gr
Dalam konteks membangun Indonesia yang maju
dan berdaya saing, guru memainkan peran sebagai sebuah
jembatan kokoh yang menghubungkan potensi peserta didik dengan peluang ekonomi
nyata, khususnya di bidang ekspor. Mimpi Indonesia untuk
menjadi kekuatan ekonomi dunia membutuhkan penyambung lidah yang mampu
menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi inspirasi dan aksi di tingkat mikro
yaitu di ruang-ruang kelas.
Seringkali,
kata "ekspor" terasa jauh, besar, dan rumit bagi peserta didik. Seolah-olah
hanya urusan pengusaha besar dengan banyak kontainer raksasa. Di sinilah tugas guru
dimana sebagai pendidik ia menguraikan, mendekatkan, dan membuatnya terasa
mungkin.
Guru tidak bisa hanya menyampaikan teori
ekspor dan impor dari buku teks tapi ia harus menghidupkannya. Guru Geografi
atau Ekonomi, bisa mengajak peserta didik untuk "membaca" kembali
kekayaan daerahnya. Bukan sekadar menghafal nama komoditas, tetapi
menganalisis. Misalnya mengangkat tentang "Mengapa kopi dari Kabupaten
Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT) banyak disukai? Bagaimana caranya
agar kopi ini bisa ada di cangkir konsumen di luar daerah atau bahkan luar negeri?
Apa yang harus diperbaiki dari kemasannya?"
Pembelajaran
berbasis proyek (project-based learning)
adalah metode pembelajaran yang ampuh. Daripada ujian tertulis tentang perdagangan.
Guru bisa memberikan tugas kelompok untuk merancang proposal tentang ekspor suatu
produk lokal. Peserta didik dapat meneliti pasar tujuan, standar kualitas,
hingga merancang strategi pemasaran digital. Dalam proses kegiatan pembelajaran,
guru menjadi fasilitator yang membimbing mereka menelusuri peluang, sekaligus
mengenalkan peran Kementerian Keuangan, seperti insentif pajak untuk eksportir
atau bagaimana perjanjian dagang internasional yang dinegosiasikan pemerintah sehingga
membuka pintu yang lebih lebar bagi produk-produk di Indonesia.
Selama ini, pola pikir yang sering tertanam
adalah "setelah lulus sekolah, maka akan mencari kerja." Guru harus menggeser
mentalitas ini menjadi "lulus sekolah, ciptakan lapangan kerja." Semangat
ekspor pada dasarnya adalah semangat kewirausahaan yang berwawasan global.
Pendidik
perlu menanamkan keyakinan bahwa generasi muda bukanlah calon pencari kerja,
melainkan calon pembuka lapangan kerja. Kisah
sukses anak muda yang berhasil mengekspor produk dari fashion lokal sampai
aplikasi digital, dapat menjadi bahan pembelajaran sehari-hari di kelas.
Guru dapat mengundang pelaku UMKM lokal yang sudah mengekspor untuk berbagi
cerita. Interaksi langsung seperti ini lebih bermakna dan membangun kepercayaan
diri bahwa "jika mereka bisa, saya juga bisa."
Guru
sebagai jembatan, juga harus membekali peserta didik dengan alat yang tepat
untuk menyeberang. Kunci integrasi keterampilan abad ke-21 adalah
·Berpikir Kritis: Menganalisis
mengapa suatu produk laku di luar negeri dan produk lainnya tidak.
· Kreativitas: Memodifikasi
produk lokal agar sesuai dengan selera pasar internasional tanpa menghilangkan
jati diri.
· Komunikasi: Mempromosikan
produk dengan bahasa yang menarik dan sesuai budaya target pasar.
· Kolaborasi: Bekerja sama untuk
menyelesaikan "proyek ekspor" dari hulu ke hilir.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bisa
berfokus pada penulisan copywriting untuk
promosi. Pelajaran Seni Budaya bisa berfokus pada desain kemasan yang menarik
dan budaya target ekspor. Pelajaran TIK bisa diajarkan untuk memanfaatkan
platform e-commerce global
dan media sosial untuk menjangkau pasar internasional. Guru, sekali lagi,
menjadi jembatan yang menghubungkan disiplin ilmu dengan kebutuhan nyata di dunia
ekspor.
Peran guru sebagai jembatan akan semakin
efektif jika ditopang oleh kebijakan dan program yang sinergis dari Kementerian
Keuangan. Program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan suku bunga ringan,
insentif perpajakan bagi eksportir pemula, dan pendanaan untuk pelatihan
kewirausahaan muda adalah pondasi yang kuat.
Guru dapat menjadi corong untuk menyebarkan
informasi program-program tersebut. Bayangkan sebuah simulasi di mana peserta
didik tidak hanya membuat proposal bisnis, tetapi juga "mengajukan"
proposal tersebut kepada "bank" (yang diperankan oleh guru atau tamu
dari perbankan) dengan skema KUR semu. Pembelajaran mendalam seperti ini akan
memberikan pemahaman utuh tentang ekosistem pendukung ekspor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik
(BPS) per Oktober 2024, nilai ekspor Indonesia mencapai US$22,42 miliar, dengan
kontribusi signifikan dari produk nonmigas seperti bijih nikel, lemak dan minyak
hewan/nabati, serta besi dan baja. Sementara itu, Kementerian Keuangan melalui
APBN 2024 mengalokasikan Rp157,4 triliun untuk program pendidikan vokasi dan
kewirausahaan, termasuk pengembangan UMKM yang berorientasi ekspor. Program KUR
telah menyalurkan Rp240 triliun hingga kuartal ketiga 2024, dengan 30% di
antaranya untuk sektor perdagangan dan industri kreatif.
Setiap kali seorang guru berdiri di depan
kelas, ia bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran saja tapi penjelasan
tentang potensi lokal, motivasi untuk berani bermimpi besar, dan bimbingan
untuk menciptakan produk inovatif.
Guru adalah jembatan yang menghubungkan mimpi Kementerian Keuangan untuk Indonesia yang sejahtera dengan semangat dan kreativitas generasi muda. Ketika seorang peserta didik yang dulu hanya menjadi konsumen produk impor, kini mulai memproduksi dan dengan percaya diri memamerkan karya lokalnya kepada dunia, itulah saatnya kita menyaksikan jembatan itu telah berfungsi dengan sempurna. Mari terus menjadi jembatan yang kuat dan inspiratif, mengantarkan generasi muda Indonesia dari ruang kelas ke jantung pasar global.