0

Guru sebagai Jembatan: Memperkenalkan Peluang Ekspor kepada Generasi Muda

Posted by camelia on 05.15

Guru sebagai Jembatan: Memperkenalkan Peluang Ekspor kepada Generasi Muda

Oleh: Maria Angelina Desales Raga, S.Pd.,Gr

 

Dalam konteks membangun Indonesia yang maju dan berdaya saing, guru memainkan peran sebagai sebuah jembatan kokoh yang menghubungkan potensi peserta didik dengan peluang ekonomi nyata, khususnya di bidang ekspor. Mimpi Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia membutuhkan penyambung lidah yang mampu menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi inspirasi dan aksi di tingkat mikro yaitu di ruang-ruang kelas.

Seringkali, kata "ekspor" terasa jauh, besar, dan rumit bagi peserta didik. Seolah-olah hanya urusan pengusaha besar dengan banyak kontainer raksasa. Di sinilah tugas guru dimana sebagai pendidik ia menguraikan, mendekatkan, dan membuatnya terasa mungkin.

 

Guru tidak bisa hanya menyampaikan teori ekspor dan impor dari buku teks tapi ia harus menghidupkannya. Guru Geografi atau Ekonomi, bisa mengajak peserta didik untuk "membaca" kembali kekayaan daerahnya. Bukan sekadar menghafal nama komoditas, tetapi menganalisis. Misalnya mengangkat tentang "Mengapa kopi dari Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT) banyak disukai? Bagaimana caranya agar kopi ini bisa ada di cangkir konsumen di luar daerah atau bahkan luar negeri? Apa yang harus diperbaiki dari kemasannya?"

Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) adalah metode pembelajaran yang ampuh. Daripada ujian tertulis tentang perdagangan. Guru bisa memberikan tugas kelompok untuk merancang proposal tentang ekspor suatu produk lokal. Peserta didik dapat meneliti pasar tujuan, standar kualitas, hingga merancang strategi pemasaran digital. Dalam proses kegiatan pembelajaran, guru menjadi fasilitator yang membimbing mereka menelusuri peluang, sekaligus mengenalkan peran Kementerian Keuangan, seperti insentif pajak untuk eksportir atau bagaimana perjanjian dagang internasional yang dinegosiasikan pemerintah sehingga membuka pintu yang lebih lebar bagi produk-produk di Indonesia.

 

Selama ini, pola pikir yang sering tertanam adalah "setelah lulus sekolah, maka akan mencari kerja." Guru harus menggeser mentalitas ini menjadi "lulus sekolah, ciptakan lapangan kerja." Semangat ekspor pada dasarnya adalah semangat kewirausahaan yang berwawasan global.

Pendidik perlu menanamkan keyakinan bahwa generasi muda bukanlah calon pencari kerja, melainkan calon pembuka lapangan kerja. Kisah sukses anak muda yang berhasil mengekspor produk dari fashion lokal sampai aplikasi digital, dapat menjadi bahan pembelajaran sehari-hari di kelas. Guru dapat mengundang pelaku UMKM lokal yang sudah mengekspor untuk berbagi cerita. Interaksi langsung seperti ini lebih bermakna dan membangun kepercayaan diri bahwa "jika mereka bisa, saya juga bisa."

Guru sebagai jembatan, juga harus membekali peserta didik dengan alat yang tepat untuk menyeberang. Kunci integrasi keterampilan abad ke-21 adalah

·Berpikir Kritis: Menganalisis mengapa suatu produk laku di luar negeri dan produk lainnya tidak.

· Kreativitas: Memodifikasi produk lokal agar sesuai dengan selera pasar internasional tanpa menghilangkan jati diri.

· Komunikasi: Mempromosikan produk dengan bahasa yang menarik dan sesuai budaya target pasar.

· Kolaborasi: Bekerja sama untuk menyelesaikan "proyek ekspor" dari hulu ke hilir.

 

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bisa berfokus pada penulisan copywriting untuk promosi. Pelajaran Seni Budaya bisa berfokus pada desain kemasan yang menarik dan budaya target ekspor. Pelajaran TIK bisa diajarkan untuk memanfaatkan platform e-commerce global dan media sosial untuk menjangkau pasar internasional. Guru, sekali lagi, menjadi jembatan yang menghubungkan disiplin ilmu dengan kebutuhan nyata di dunia ekspor.

 

Peran guru sebagai jembatan akan semakin efektif jika ditopang oleh kebijakan dan program yang sinergis dari Kementerian Keuangan. Program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan suku bunga ringan, insentif perpajakan bagi eksportir pemula, dan pendanaan untuk pelatihan kewirausahaan muda adalah pondasi yang kuat.

Guru dapat menjadi corong untuk menyebarkan informasi program-program tersebut. Bayangkan sebuah simulasi di mana peserta didik tidak hanya membuat proposal bisnis, tetapi juga "mengajukan" proposal tersebut kepada "bank" (yang diperankan oleh guru atau tamu dari perbankan) dengan skema KUR semu. Pembelajaran mendalam seperti ini akan memberikan pemahaman utuh tentang ekosistem pendukung ekspor.

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2024, nilai ekspor Indonesia mencapai US$22,42 miliar, dengan kontribusi signifikan dari produk nonmigas seperti bijih nikel, lemak dan minyak hewan/nabati, serta besi dan baja. Sementara itu, Kementerian Keuangan melalui APBN 2024 mengalokasikan Rp157,4 triliun untuk program pendidikan vokasi dan kewirausahaan, termasuk pengembangan UMKM yang berorientasi ekspor. Program KUR telah menyalurkan Rp240 triliun hingga kuartal ketiga 2024, dengan 30% di antaranya untuk sektor perdagangan dan industri kreatif.

 

Setiap kali seorang guru berdiri di depan kelas, ia bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran saja tapi penjelasan tentang potensi lokal, motivasi untuk berani bermimpi besar, dan bimbingan untuk menciptakan produk inovatif.

Guru adalah jembatan yang menghubungkan mimpi Kementerian Keuangan untuk Indonesia yang sejahtera dengan semangat dan kreativitas generasi muda. Ketika seorang peserta didik yang dulu hanya menjadi konsumen produk impor, kini mulai memproduksi dan dengan percaya diri memamerkan karya lokalnya kepada dunia, itulah saatnya kita menyaksikan jembatan itu telah berfungsi dengan sempurna. Mari terus menjadi jembatan yang kuat dan inspiratif, mengantarkan generasi muda Indonesia dari ruang kelas ke jantung pasar global.


0 Comments

Posting Komentar

angelsincere

Copyright © 2009 Angel Blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.